MENGAJAK PETANI BATU-BATA BERKESENIAN

Kritik Seni Comments Off on MENGAJAK PETANI BATU-BATA BERKESENIAN

Di desa Trangkil (Pati) ada sekelompok petani yang sehari-hari bekerja memproduksi batu bata. Mereka membeli tanah, mengolahnya menjadi bahan yang siap cetak, mencetak, mengeringkan dan membakar. Kalau cuacanya terang, matahari sepanjang hari bersinar, proses itu dapat berjalan 1 minggu untuk 5000 batu bata. Tetapi kalau musim hujan, kadang-kadang satu bulan pun tidak menghasilkan apa-apa. Artinya, hasil pekerjaan mereka sangat tergantung dari sinar matahari. Karena, sebelum proses pembakaran, bakal batu bata itu harus benar-benar kering.

Kerutinan petani batu-bata di Trangkil ini menjadi sumber inspirasi seorang mahasiswa Pascasarjana ISI Surakarta bagi karya tugas akhirnya. Ia adalah Whayan Christiana, dosen STSI Bandung yang lahir di Pati. Ia mengamati rutinitas petani pembuat batu-bata di Trangkil ini, kemudian membuat semacam skenario, suatu konsep pementasan drama keseharian mereka dengan memanfaatkan alat-alat yang biasa mereka gunakan sebagai instrumen musik. Prosesnya berjalan beberapa bula, dan pada akhir bulan Juni 2010 yang lalu dipentaskan sebagai Ujian Tugas Akhir Whayan.

Pentas itu dilakukan di lokasi pembuatan batu-bata. Diawali dengan dialog antara kelompok petani dengan mandor. Mandor adalah orang yang menjual jasa menyediakan tanah atau bahan mentah untuk batu-bata. Isi dialog adalah tawar-menawar berapa harga tanah satu truk. Setelah sepakat, mandor pergi, dan petani mempersiapkan tempat untuk bekerja. Dalam mempersiapkan tempat itu mereka menggunakan sapu lidi, yang digoreskan ke permukaan tanah dengan pola ritme tertentu, sehingga menghasilkan satuan musik yang teratur, Kadang-kadang sapu lidi digebuk-gebukkan ke atas tanah untuk memberi tekanan. Di bagian lain adabeberapa pekerja yang meratakan tanah dengan bambu petung sehingga menghasilkan jalinan pola ritme yang teratur. Ini, meskipun sangat sederhana, tetapi tidak sekalipun pernah dilakukan oleh para petani. Jadi mereka benar-benar diajak untuk menjadi pemain musik.

Setelah berjalan beberapa menit, datang truk pembawa tanah yang juga dipenuhi oleh anak-anak kecil. Suaranya riuh, karena anak-anak itu memukul-mukul bak truk dengan alat apa saja secara tidak teratur sambil berteriak-teriak kegirangan. Sebelum tanah diturunkan terjadi dialog antara mandor dan petani yang isinya mempertanyakan tentang kualitas tanah. kemudian disusul pekerjaan menurunkan tanah, yang diatur sedemikian rupa agar menimbulkan bunyi. Geseken cangkul dan tanah, suara jatuhnya tanah ke tempat penampungan, suara alat untuk membersihkan cangkul dari tanah yang menempel, serta suara anak-anak yang terus memukul-mukl bak truk menjadi susunan musik yang mengasyikkan.

Pekerjaan selanjutnya adalah mengolah tanah menjadi bahan yang siap cetak. Mereka biasa menamkan proses ini sebagai ngidak, yaitu menginjak-injak tanah yang diberi air, sehingga terdengar efek bunyi crok-crok. Efek bunyi inilah yang diolah Whayan dalam pola ritme, sehingga menjadi susunan musik. Setelah itu kemudian pekerjaan merapikan batu-bata yang sudah kering dan siap dibakar. Pekerjaan ini disebut ngerik (mengerok), yang menimbulkan efek bunyi dari gesekan alat logam dengan permukaan bakal batu bata. Ini juga dikomposisikan sedemikian rupa menjadi satuan musik. Dan proses yang terakhir adalah membakar. Sebelum pembakaran diadakan selamatan atau semacam ritual dengan doa dan nyanyian solawat, kemusian baru masuk ke proses pembakaran. Dalam proses ini yang ditonjolkan adalah bunyi letupan-letupan bambu yang dibakar. Akhir dari itu semua adalah syukuran, yaitu para petani bersenang-senang dengan tetabuhan ritmik menggunakan alat-alat seadanya.

Sebagai tontonan pasti tidak menyenangkan karena kesederhanaannya. Akan tetapi usaha Whayan ini patut dihargai, karena berhasil membuat petani yang awam sekali dengan kesenian (musik dan teater) menjadi pemusik dan aktor yang dapat bermain secara lugas tanpa teks. Melalui proses yang cukup lama mereka terbentuk menjadi seniman ‘alami’ yang percaya diri menghadapi publik penonton, dan apalagi waktu itu ada penguji dari ISI Surakarta. Sayang, pementasan ini hanya ditonton oleh para tetangga dan pejabat pemerintah desa. Usaha Whayan untuk mendatangkan budayawan, seniman, dan para pejabat pemerintah kota maupun yang berkompeten dengan seni budaya, tidak mendapat sambutan. Mungkin mereka menganggap bahwa itu tidak penting, orang desa, mengada-ada, dan lain-lainnya. Atau barangkali juga karena kekuranggigihan Whayan mempromosikan produk ini, sehingga kurang mendapat respon.

PELECEHAN KARYA SENI TRADISI

Kritik Seni Comments Off on PELECEHAN KARYA SENI TRADISI

PAda akhir abad XIX Mangkunagara V menciptakan busana untuk wayang orang. Sumber inspirasinya selain wayang kulit, juga patung Bima yang ada di candi Sukuh. Sebelum itu, busana wayang orang Mangkunagaran seperti busana sehari-hari, yaitu kain panjang, baju, ikat kepala. Sesudah itu, busana wayang orang terlihat sangat anggun dan agung, terdfiri dari berbagai asesoris yang memenuhi tubuh, mulai dari kepala (mahkota) dada, perut, tangan, kaki, dan lain-lain.

Bagaimanapun karya busana wayang orang ini merupakan karya bangsa yang memiliki nilai sejarah, dan estetika yang tinggi. Oleh karena itu sangat patut dan layak untuk kita hargai sebagai karya yang agung.

Akhir-akhir ini sering muncul di media televisi, para pelawak tampil dengan busana wayang orang. Tetapi pemakaiannya tidak mengikuti tata krama, bahkan cenderung melecehkan. Kita tahu, bahwa untuk memperoleh busana wayang orang bisa dibeli dan atau disewa. Tetapi tidak berarti bahwa karena bisa membeli atau menyewa lalu boleh mengenakan secara semena-mena. Itu suatu tindakan yang biadab atau tidak berbudaya.

Seni Pertunjukan Tradisi Populer

Mata Kuliah SPI Comments Off on Seni Pertunjukan Tradisi Populer

Seni Pertunjukan Tradisi Populer diawali sejak akhir abad XIX sebagai dampak dari situasi politik dan kebijakan ekonomi liberal yang diberlakukan oleh pemerintah kolonial Belanda setelah program Tanam Paksa gagal. Yang pertama-tama muncul adalah Wayang Orang Panggung, kemudian disusul Ketoprak, Ludrug, dst.

Wayang OIrang Panggung diprakarsai oleh sudagar Cina yang bernama Gan Kam, yang punya hubungan dekat denganistana Mangkunagaran. Wayang Orng Mangkuynagaran waktu itu mati sebagai akibat dari keadaan ekonomi istana yang collaps. Kemudian Gan Kam minta ijin kepada Mangkunagara untuk membangun wayang orang di luar istana untuk dijual kepada masyarakat.

Klasifikasi Instrumen Musik Hindu

Mata Kuliah Sejarah Comments Off on Klasifikasi Instrumen Musik Hindu

Instrumen Musik Hindu Indonesia datanya berupa artefak, yaitu relief-relief candi dan arca lepas yang dibuat antara abad VII hingga XV, yang tersebar di wilayah Jawa Tengah dan Jawa Timur.

Berdasarkan data tersebut, jenis-jenis instrumen musik zaman Hindu Jawa itu dapat diklasifikasikan sebagai berikut.

1. Membranophone, yaitu alat musik yang sumber bunyinya dibuat dari membran atau kulit binatang, misalnya berbagai bentuk kendang.

2 Aerophone, dst.

Hello world!

Uncategorized 1 Comment »

Welcome to Berpacu dlm Kreatifitas dan Prestasi. This is your first post. Edit or delete it, then start blogging!


WordPress Theme & Icons by N.Design Studio
Entries RSS Comments RSS Log in